image
Sinabungku kering

Tempat liburan favorit saya adalah tempat yang bbrrrr..bbrrrr… alias tempat yang dingiin. Setidaknya sejuk dan hijau. Dimana lagi kalau bukan pegunungan atau dataran tinggi.
Saya dan my mate nekat ke dataran tinggi Berastagi, Sumut, dengan mengendarai motor second jenis matic yang saya beli di Medan untuk bolak balik ke RS. Waktu itu bulan Juli 2015, saya masih koass dan my mate datang menjenguk ke Medan.
Pertimbangan kami mengendarai motor adalah karena jarak Medan-Berastagi hanya 66 km, lagipula kami berniat untuk menginap 2 sampai 3 hari, tentu sangat menguras kantong kalau menyewa mobil, sedangkan ada si matic ijo yang menganggur, akhirnya my mate menyanggupi untuk membonceng saya kesana. Berpeta gps kami meraba-raba jalan menuju Berastagi. Nekat. Dua orang sipit berjiwa petualang berekspetasi mengendarai Harley ke puncak gunung. Hahah

image
Good man and good day cappucino

image

Memasuki daerah Sibolangit, sekitar 20 km sebelum Berastagi, hidung saya langsung mampet. Rhinitis vasomotor saya kambuh. Udara yang dingin langsung terasa menusuk hidung. Kabut menyerbu. Jam menunjukan pukul 17.00. Jalanpun mulai menanjak. Si ijo mengejan menapaki jalan berliku tanda kami mulai memasuki daerah pegunungan. Pukul 18.00 sampailah kami di Berastagi, gerimis dan udara dingin membuat kami gentar mencari beberapa alamat penginapan. Apalagi kebanyakan penginapan baik hotel maupun homestay terlihat tua, sepi, dan horor bagi saya. Terlintas dipikiran penginapan-penginapan ini mirip villa di film-film Suzanna. Haha.. Sempat bingung, tapi ketika mengecek Wisma Sibayak yang terlihat ramai dengan bule, kami langsung memutuskan untuk menginap disitu. Berada dipusat kota Berastagi, dan lumayan bersih. Lokasinya tepat di sebelah kanan tugu kol. Kol?? Iya sayur kol=cabbage. Itu karena berastagi merupakan penghasil sayur mayur terbesar di Sumatera. Salah satunya sayur kol yang terbanyak. Berastagi juga terkenal dengan jeruknya, makanya dipertigaan jalan menuju Taman Alam Lumbini juga terdapat tugu jeruk. Nanti dipostingan berikutnya saya ceritakan tentang taman ini ya..

image
Wisma Sibayak
image
Room wisma sibayak

Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi dan mencicipi kopi Berastagi di kedai yang peraciknya menggunakan topi koboi. Ah saya lupa nama kedainya. Tapi kopinya sedap sekali, sampai kami balik lagi kesitu dihari berikutnya. Tempatnya di sebelah kiri pertamina dipusat kota. Di Berastagi memang banyak kedai kopi, mungkin semua kedai kopi menjual kopi yang enak, tapi kami sudah terkesan dengan kopi si abang koboi ini.

image
Kopi susu

Setelah mencicipi kopi dipagi yang sejuk, kami mencari Bukit Gundaling, bukit tempat spot sunrise yang sengaja tidak kami kejar karena gerimis tadi pagi. Letaknya tidak terlalu jauh dari kota, dibukit itu kita dapat melihat jelas Gunung Sibayak dan Sinabung yang masih sangat aktif. Desa Berastagi memang diapit oleh 2 gunung ini.

image
Bukit Gundaling
image
Pemandangan Gunung Sinabung dari Bukit Gundaling
image
Gunung Sibayak

Usai berfoto-foto dibukit, kami berniat untuk mencari Desa Lingga, desa yang masih terdapat rumah adat jaman dahulu.. bermodal tanya-tanya pada penduduk setempat, kami meneruskan perjalanan yang lumayan jauh, hasilnya… hanya terdapat 2 rumah adat yang berbaur dengan perkampungan sekitarnya. Dan sebuah museum yang koleksinya hanya sedikit. Huu sayang sekali.. tapi perjalanan menyusuri desa yang bersatu dengan ladang sayuran sungguh tidak membuat kami menyesal mencari tempat yang cukup jauh itu.

image
Rumah adat Gerga
image
Museum Karolingga
image
Koleksi topeng serem

Apalagi diperjalanan kami melihat papan petunjuk jalan yang menunjukan arah Danau Lau Kawar, tertulis hanya 20 km. My mate lalu bertanya kepada penduduk setempat mengenai danau itu. Saya juga langsung sibuk bertanya pada mbah google. Haha
Jadilah kami menyusuri arah menuju Danau Lau Kawar. Perjalanan kesana penuh drama dengan my mate. “Kok jauh ya. Kok sepi banget ya. Waduh mate, kita kesasar. Eh ada bule lewat. Aman mate aman. Ayo lanjut. Eh kok tambah sepi sih. Banyak abu lagi. Pake maskernya. Bensin kita cukup ga?!” Hahah..

image
Looong journey
image
Mendekati kaki Gunung Sinabung

Akhirnya sampailah kami di danau yang… Hororrr.. air danaunya tenang sekali, pohon dan rumput berselimut abu karena gunung aktif Sinabung yang selalu batuk mengeluarkan abu,  suasana sepi tanpa seorang pun disana. Eksotis memang. Tapii.. ah kami berdua langsung cekrek cekrek mengambil foto secepat kilat dan langsung kabuur.. hihihi

image
Danau Lau Kawar
image
Danau Lau Kawar

Perjalanan pulang kami penuh tawa tiwi, nyanyi nyanyi, memecahkan suasana sepi dijalan, padahal dalam hati berdoa supaya selamat sampai dipenginapan. Hahah..
Oh ya, ada sesuatu yang unik banget, diperjalanan sering kami temui kuburan ditengah ladang, atau dipinggir jalan, dimanapun. Seperti tidak ada tempat pemakaman umum disana, kuburan terlihat secara acak dimana-mana. Rupanya setelah kami berbincang dengan orang lokal, kuburan tersebut dibangun ditengah ladang atau disamping rumah bertujuan agar tanah milik keluarga tidak dijual atau berpindah tangan bila ada kuburan orangtua atau kakek nenek mereka dilahan itu. Unik sekali bukan?

image
Itu kuburan loh

Lokasi Danau Lau Kawar memang berada tepat di kaki Gunung Sinabung, pedesaan disekitarnya bagaikan desa zombie. Minim aktivitas, tapi masih ada beberapa warga yang menetap disana. Menggaruk ladang kering berabu. Mengais sayuran yang masih bisa tumbuh meskipun tak subur karena selalu terhujani abu. Sedih sekali melihat nasib penduduk disekitar kaki Gunung Sinabung. Semoga mereka diberi ketabahan dan Sinabung tenang kembali.

image
Menggarap ladang
image
Ladang kol yang ber abu

Meskipun saya sibuk terhoror-horor disana, tapi sungguh saya suka sekali perjalanan ini. Perjalanan terpanjang dengan bermotor bersama my mate. Cuaca sejuk, luasnya ladang sayuran yang memanjakan mata, Sinabung yang eksotis, membuat saya ingin balik lagi kesana suatu saat nanti.. tunggu cerita saya yang lebih seru di Berastagi part 2 ya..

image