image

Obrolan saya dengan seorang saudara yang hoby cek kesehatan keluar negeri membuat saya miris.. Apa yang sebenarnya menjadi pilihan terbaik untuk periksa kesehatan atau berobat itu tidak tergantung kepada lokasi (dalam/luar negeri), atau mahal-murahnya jasa kesehatan itu sendiri.
Ada sebuah kasus, seorang pasien laki-laki usia 55 tahun, dibawa ke RSUD dengan keluhan kaki bergetar seperti kejang, riwayat hipertensi dan gangguan ginjal kronis, sehari kemudian pasien mengalami penurunan kesadaran (coma). Menurut keluarga, ia selalu cek kesehatan di luar negeri, dan mendapati bahwa ginjal telah mengalami gangguan, namun dokter disana hanya memberikan obat hipertensi. Di Indonesia, pasien dianjurkan untuk cuci darah, namun menolak karena lebih percaya hasil diluar negeri. Beberapa bulan kemudian ia diantar ke RSUD karena keluhan tadi, dan jatuh coma dengan dugaan racun dari ginjal yang seharusnya terbuang, masuk ke otak karena gagal ginjal.
Waktu berobat diluar negeri, pasien merasa tenang karena dokter menjelaskan dengan baik bahwa keadaan ginjal pasien sedikit mengalami gangguan, pada waktu itu tidak perlu penanganan yang serius, namun penting untuk memonitoring kelanjutan penyakitnya dikemudian hari. Pasien yang bijaksana harusnya bisa memahami bahwa keadaan bisa saja memburuk, bukannya malah jadi meremehkan pemeriksaan berikutnya di Indonesia, yang ternyata penyakit menjadi lebih serius. Sampai beberapa bulan mengacuhkan saran dokter untuk cuci darah, pasien drop dan jatuh kedalam coma. Salah siapa?
Salahkan ketidaktahuan dan kesombongan diri sendiri. 
Saudara saya dan beberapa pasien yang sering berobat diluar negeri mengatakan “Dokter Indonesia dikit-dikit kasih obat, dikit-dikit anjuran operasi. Kalau diluar negeri, dokter lebih banyak memberi edukasi dan meminimalisir asupan obat-obatan kepada pasiennya”
Statement tersebut tidak salah, namun tidak juga sepenuhnya dapat dibenarkan.
Menurut pandangan saya, dokter Indonesia lebih terbiasa menghadapi pasien yang awam pengetahuannya tentang kesehatan, yang protes kalau keluhannya belum hilang, yang menjudge dokternya tidak bagus karena tidak sembuh-sembuh sakitnya. Sehingga berkembanglah budaya memanjakan pasien dengan pengobatan simptomatis (demam kasih antidemam, nyeri dikasih antinyeri, dll ) sehingga banyak obat yang diminum. Bahaya gak? Tenang.. ga akan bahaya kalau pemberian obat-obatan disesuaikan dengan keadaan tubuh pasien. Sebenarnya dengan mengontrol penyebab penyakitnya, misalnya bakteri, virus, alergen atau yang lainnya, semua gejala itu akan hilang dengan sendirinya.
Ketimpangan tingkat pengetahuan masyarakat kita yang bervariasi membuat pelayanan kesehatan sering tidak memuaskan pasien. Khususnya pasien dengan ekonomi menengah atas, mereka berbondong-bondong periksa darah, urin, radiologi, dll diluar negeri, yang nyatanya bahkan di RS tipe C di Indonesia pun bisa melakukannya.
Antara pasien dan dokter seharusnya terbentuk suatu komunikasi yang efektif. Diskusi harus terjadi antara pasien dan dokter. Pasien harus cerdas menyampaikan keluhannya dan boleh bertanya untuk keputusan yang akan diambil. Dokter juga harus menyampaikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi baik atau buruknya. Dan biarkan pasien memutuskan yang terbaik untuk dirinya sendiri.
Ketika seseorang berkata ” Dokter menyarankan operasi/cuci darah/tindakan serius lainnya itu cuma mengada-ada, hanya cari duit saja” saya hanya mengelus dada. Segala tindakan yang dilakukan dokter itu sangat diperhitungkan karena berbagai resiko yang dapat terjadi. Coba bayangkan bila dokter hanya operasi untuk cari uang, dan tiba-tiba pasien meninggal dan dokter dituntut? Bukankah terlalu beresiko mencari uang dari mempertaruhkan nyawa orang lain? Siapa yang tega membunuh orang lain demi uang? Oh tentu bukan dokter. Bisa jadi perampok atau begal. sungguh miris menodai putihnya baju dokter dengan darah dan uang, sedangkan cara memperjuangkan mendapat baju itu pun penuh perjuangan, materi, dan waktu.
Pesanku kepada diri sendiri dan dokter seluruh Indonesia, bagilah ilmumu kepada yang awam, agar mereka mengerti dan kesetaraan pengetahuan kesehatan bisa terwujud. Jangan hanya buka praktek untuk mengobati, lakukan penyuluhan kesehatan sebagai tindakan preventif, berikan edukasi kepada setiap pasien yang berkonsultasi.
Dan kepada masyarakat yang menikmati pelayanan kesehatan, hargailah setiap usaha yang dilakukan tenaga kesehatan. Baik dokter, perawat, petugas lab, dll. Karena kami hanya menginginkan kesembuhan bagi pasiennya. Bukankah hati nurani tidak mungkin ingin mencelakakan orang lain?